Senin, 29 Juni 2015

Ilmu Waris

Oleh: Heniy Astiyanto, S.H

WARISAN DAN WASIAT

1. Warisan Cepat Dibagi

Sekarang ini ada kecenderungan untuk memperlambat pembagian warisan. Akibatnya tidak ada kepastian hukum dan menimbulkan sengketa serta fitnah. Maka yang lebih baik ialah warisan itu segera diselesaikan dan idberikan kepada yang berhak. Dengan demikian ada kepastian hukum, menghindari fitnah, dan konflik keluarga. Dilihat dari segi ekonomi harta warisan yang cepat dibagi akan lebih produktif.

2. Tahap Penyelesaian

a. Inventasi harta benda peninggalan pewaris
b. Kemudian dihitung (yang harus dikeluarkan lebih dahulu).
    - Biaya pemakaman
    - Hutang dan pengobatan
    - Wasiat
Maka cara membagi warisan ialah harta peninggalan pewaris (a) dikurangi harta yang harus dikeluarkan (b).

3. Musyawarah

Dalam pembagian warisan lebih baik ialah dengan cara musyawarah kekeluargaan. Para pihak akan menyadari akan hak-haknya, yang penting tercermin keadailan. Bisa juga salah satu ahli waris tidak minta harta warisan karena merasa hidupnya telah berkecukupan dibandingkan dengan saudara-sadaranya. Menurut Kompilasi Hukum Islam Pasal 183, para ahli waris dapat sepakat melakukan perdamaian dalam pembagian harta warisan, setelah menyadari bagianya.

4. Wasiat

Suatu pertanyaan yang sederhana ialah, bagaimana seseorang memberi wasiat apada orang lain?
Adapun caranya sebagai berikut:
a. Wasiat dapat dilakukan dengan cara lisandihadapan dua orang saksi, atau tertulis dihadapan dua orang saksi, atau dihadapan notaris.
b. Wasiat dibolehkan sebanyak-banyaknya sepertiga dari harta warisan kecuali apabila semua ahli waris menyetujuinya.
Kompilasi Huku Islam Pasal 195 (1,2)

5. Wasiat Batal

Seorang memberi wasiat pada orang lain berwujud benda itu sah secara hukum. Tapi wasiat itu sendiri bisa batal antara lain:
a. Orang yang ditunjuk menerima wasiat tidak mengetahui adanya wasiat tersebut sampai meninggal dunia sebelum meninggalnya pewasiat.
b. Yang mewarisi wasiat menolak.
c. Barang yang diwasiatkan musnah.
Kompilasi Hukum Islam Pasal 197 (2,3)

6. Hibah

Kadang orang tua sangat mencintai anaknya. Untuk mewujudkan cintanya itu orang tuanya dapat memberikan hibah pada anaknya.
a. Hibah orang tua kepada anaknya dapat diperhitungkan sebagai warisan.
Kompilasi Hukum Islam Pasal 211
b. Hibah itu tidak dapat ditarik kembali, kecuali hibah orang tuanya kepada anaknya .
Kompilasi Hukum Islam Pasal 212

7. Janda

Janda adalah ahli waris. Janda mendapat seperempat bagian bila pewaris tidak meninggalkan anak, dan bila pewaris meninggalkan anak, maka janda janda mendapat seperdelapan bagian.
Kompilasi Hukum Islam Pasal 180

8. Anak Angkat

Terhadap anak angkat yang tidak menerima wasiat diberi wasiat wajibah sebanyak-banyaknya 1/3 (sepertiga) dari harta warisan orang tua angkatnya.
Kompilasi Hukum Islam Pasal 209 (2)

9. Anak Dalam Kandung

Jika mau membagi warisan ternyata jandanya sedang hamil, lebih baik cara membagi warisan dengan memperhitungkan calon bayi, bagian calon bayi itu disisihkan.
Contoh:
Si A meninggal dunia dan ahli warisnya:
1. Janda hamil
2. Anak kandung laki-laki
Maka ahli waris yang berhak atas warisanya :
1. Janda
2. Calon bayi
3. Anak kandung laki-laki

10. Warisan Orang Hilang

Apabila ada seseorang meninggalkan tempat tinggalnya lama sekali, tanpa ada beritanya, maka para ahli waris dapat meminta hakim menetapkan bahwa orang tersebut  diatas dinyatakan meninggal dunia (ghoib).


Kamis, 11 Juni 2015

Surat-surat Makkiyah dan Madaniyah

Merujuk kepada Mushaf Al-Madinah, terbitan Mujamma Al-Malik Fahd di Madinah Munawarah yang beredar luas di Indonesia, surat-surat makkiyah sebagai berikut:

Surat-surat Makkiyah
    1.      Al-Fatihah
    2.      Al-An’am
    3.      Al-Araf
    4.      Yunus
    5.      Hud
    6.      Yusuf
    7.      Ibrahim
    8.      Al-Hijr
    9.      An-Nahl
    10.  Al-Isra
    11.  Al-Kahfi
    12.  Maryam
    13.  Thaha
    14.  Al-Anbiya
    15.  Al-Mukminun
    16.  Al-Furqan
    17.  Asy-Syu’ara
    18.  An-Naml
    19.  Al-Qashash
    20.  Al-Ankabut
    21.  Ar-Rum
    22.  Luqman
    23.  As-Sajadah
    24.  Saba
    25.  Fathir
    26.  Yasin
    27.  Ash-Shaffat
    28.  Shad
    29.  Az-Zumar
    30.  Al-Mukmin
    31.  Fushilat
    32.  Asy-Syura
    33.  Az-Zukhruf
    34.  Ad-Dukha
    35.  Al-Jatsiyah
    36.  Al-Ahqaf
    37.  Qaf
    38.  Adz-Dzariyat
    39.  Ath-Thur
    40.  An-Najm
    41.  Al-Qomar
    42.  Al-Waqiah
    43.  Al-Mulk
    44.  Al-Qolam
    45.  Al-Haqah
    46.  Al-Ma’arij
    47.  Nuh
    48.  Al-Jin
    49.  Al-Muzammil
    50.  Al-Muddatsir
    51.  Al-Qiyamah
    52.  Al-Mursalat
    53.  An-Naba
    54.  An-Nazi’at
    55.  Abasa
    56.  At-Taqwir
    57.  Al-Infithar
    58.  Al-Muthaffifin
    59.  Al-Insyiqaq
    60.  Al-Buruj
    61.  Ath-Thariq
    62.  Al-Ala
    63.  Al-Ghasyiyah
    64.  Al-Fajr
    65.  Al-Balad
    66.  Asy-Syams
    67.  Al-Lail
    68.  Adh-Dhuha
    69.  Alam-Nasyrah
    70.  At-Tin
    71.  Al-Alaq
    72.  Al-Qodr
    73.  Al-Adiyat
    74.  Al-Qari’ah
    75.  At-Takatsur
    76.  Al-Ashr
    77.  Al-Humazah
    78.  Al-Fill
    79.  Quraisy
    80.  Al-Ma’un
    81.  Al-Kautsar
    82.  Al-Kafirun
    83.  Al-Lahab
    84.  Al-Ikhlas
    85.  Al-Falq
    86.  An-Nas

      Berdasarkan Mushaf Al-Madinah, terbitan Mujamma Al-Malik Fahd di Madinah Munawarah yang beredar luas di Indonesia, yang termasuk kategori surat-surat makkiyah sebagai berikut:

      Surat-surat Madaniyah
    1.      Al-Baqarah
    2.      Ali-Imran
    3.      An-Nisa
    4.      Al-Maidah
    5.      Al-Anfal
    6.      At-Taubah
    7.      Ar-Rad
    8.      Al-Hajj
    9.      An-Nur
    10.  Al-Ahzab
    11.  Muhammad
    12.  Al-Fath
    13.  Al-Hujurat
    14.  Ar-Rahman
    15.  Al-Hadid
    16.  Al-Mujadilah
    17.  Al-Hasyr
    18.  Al-Mumtahanah
    19.  Ash-Shaf
    20.  Al-Jum’ah
    21.  Al-Munafiqun
    22.  At-Taghabun
    23.  Ath-Thaliq
    24.  At-Tahrim
    25.  Al-Insan
    26.  Al-Bayyinah
    27.  Az-Zalzalah
    28.  An-Nashr

Menurut manna al-Qaththan, tidak semua surat disepakati oleh para ulama dalam memasukanya dalam kategori Makkiyah dan Madaniyah. Surat-surat Makkiyah yang disepakati ada 82 surat, sedangkan surat-surat Madaniyah ada 20 surat. Yang diperselisihkan ada 20 surat yaitu: Al-Fatihah, Ar-Ra’du, Ar-Rahman, Ash-Shaf, At-Taghabun, Ath-Muthaffifin, Al-Qadr, Al-Bayyinah, Az-Zalzalah, Al-Ikhlash, Al-Falq, dan An-Nas (surat-surat yang di cetak tebal dalam daftar surat-surat Makkiyah dan Madaniyah).
Perlu dicatat di sini bahwa pengelompokan surat-surat ke dalam Makkiyah dan Madaniyah hanyalah berdasarkan sebagian besar ayat-ayatnya, tidak harus seluruh ayatnya, sehingga nantia akan di temukan Surat Makkiyah tetapi di dalamnya ada ayat Madaniyah, begitu juga sebaliknya, Surat Madaniyah tetapi di dalamnya ada ayat Makkiyah.

Semoga Bermanfaat......!!!



Senin, 08 Juni 2015

Kriteria Surat Makkiyah dan Madaniyah

   Kuliah Ulumul Quran 
Prof.Dr.H.Yunahar Ilyas,Lc,MA.
      Kriteria Surat Makkiyah 
      1. Setiap surat yang di dalamnya ada ayat sajadah
      2. Setiap surat yang di dalamnya ada lafaz kalla (33x dalam 15 surat)
      3. Setia surat yang di dalamnya ada lafaz Ya Ayyuhannas, dan tidak ada Ya Ayyuhahallazina amanu (kecuali Surat Al-Hajj)
      4. Setiap surat yang di dalamnya ada kisah para Nabi dan umat-umat sebelumnya (kecuali Surat Al-Baqarah)
      5. Setiap surat yang di dalamnya ada kisah Nabi Adam dan Iblis (kecuali Surat Al-Baqarah)
      6. Setiap surat yang di buka denga huruf Hijaiyah seperti Alif-lam-mim, Alif lam-ra, Ha-mim dan semacamnya (kecuali Surat Al-Baqarah dan Surat Al-Imran)
      7.  Surat-surat yang ayatnya pendek-pendek, bersajak, i’jaz al-ibarah dan padat isinya
      8. Surat-surat yang berisi ajaran tentang aqidah (tauhid, menyembah Allah SWT semata, risalah Nabi Muhammad SAW, Hari Akhir, mujadalah kaum musyrikin dengan dalil dalil akal dan ayat-ayat kauniyah)
      9. Surat-surat yang berisi peletakan dasar-dasar tasyri dan keutamaan akhlaq mulia, celaan terhadap kejahatan kaum musyrikin seperti penumpahan darah memakan harta anak yatim secara aniaya, membunuh anak perempuan dlsb.

      Kriteria Surat Madaniyah
Para Ulama merumuskan kriteria surat Madaniyah sebagai berikut:
1. Setiap surat yang di dalamnya ada ayat Ya Ayyuhalladzina amanu
2. Setiap surat yang di dalamnya ada faridhah (kewajiban) dan sanksi pidana
3. Setiap surat yang di dalamnya di sebut tentang kaum Munafiqin (kecuali Surat Al-Ankabut) mengungkap tetang prilaku mereka, membuka rahasia-rahasia mereka, dan menjelaskan bahaya kaum munafikin terhadap umat Islam
4. Setiap surat yang di dalamnya ada Mujadalah Ahl al-Kitab (Yahudi dan Nasrani), seruan terhadap mereka untuk masuk Islam, megungkap pemalsuan al-kitab dlsb.
5. Setiap surat yang di dalamnya ada ajaran tentang ibadah, mu’amalah, pidana, aturan berkeluarga, warisan, keutamaan jihad, hubungan sosial kemasyrakatan, hubungan antar negara dalam damai dan perang, kaidah-kaidah hukum dan persoalan tasyri.
6. Setiap surat ayatnya panjang-panjang, dan bergaya prosa liris.
 
     Semoga Bermanfaat......!!!




Sabtu, 06 Juni 2015

Konsepsi Wahyu

Menurut Bahasa adalah sesuatu yang tersembunyi. Sedangkan menurut istilah adalah  pemberitahuan secara tersembunyi dan cepat yang diberikan kepada orang khusus (Nabi dan Rosul) tanpa di ketahui orang lain.

Nama lain dari Wahyu antara lain :

1. Al-Ilham al-fithri li al-insan

وَأَوْحَيْنَا إِلَى أُمِّ مُوسَى أَنْ أَرْضِعِيهِ فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِي الْيَمِّ وَلا تَخَافِي وَلا تَحْزَنِي إِنَّا رَادُّوهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوهُ مِنَ الْمُرْسَلِينَ

“Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa. “Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah pula bersedih hati, karena sesungguhnya kami akan mengembalikanya kepadamu, dan menjadikanya (salah seorang) dari para rasul.” (Q.S. Al-Qashash:7).

            Wahyu dalam ayat di atas berarti ilham yang diberikan Allah SWT kepada Ibu Musa untuk meyusukan bayinya yang dihanyutkan kesungai Nil dalam rangka menyelamatkanya dari pembunuhan semua bayi laki-laki Bani Israil sebagaimana yang diperintahkan Firaun.

2. Al-Ilham al-gharizi li al-hayawan

أَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُ و

“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah. “Buatlah sarang –sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan tempat-tempay yang dibikin manusia.” (Q.S. Al-Nahl:68).

            Wahyu dalam ayat di atas berarti Instink yang diberikan Allah SWT kepada lebah untuk membuat sarang di bukit, pohon-pohon kayu serta tempat-tempat yang dibikin oleh manusia

3. Waswasatu asy-Syaithan

وَلا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَى أَوْلِيَائِهِمْ لِيُجَادِلُوكُمْ وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ 

“Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah adalah sebuah kefasikan kepada kawan-kawanya agar mereka membantah kamu, dan jika menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang yang musyirik.” (Q.S. Al-An’am:121).

            Wahyu dalam ayat diatas berarti bisikan sesama syaitan untuk membantah orang-orang yang beriman.

4. Ma yulqihillahu ila malaikatihi min amrin liyaf'aluhu

إِذْ يُوحِي رَبُّكَ إِلَى الْمَلَائِكَةِ أَنِّي مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا الَّذِينَ آمَنُوا سَأُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُوا الرُّعْبَ فَاضْرِبُوا فَوْقَ الْأَعْنَاقِ وَاضْرِبُوا مِنْهُمْ كُلَّ بَنَانٍ

“(ingatlah), ketika Tuhanmu mewhyukan kepada Malaikat. Sesungguhnya aku bersama kamu, maka teguhkan pendirian orang-orang yang telah beriman. Kelak akaan aku jatuhkan rasa ketakutan kedalam hati orang-orang kafir, maka penggalah kepala mereka dan tiap ujung jari-jari mereka.” (Q.S. Al-Anfal:12).

            Wahyu dalam ayat dia atas berarti perintah Allah SWT kepada para malaikat untuk meneguhkan hati orang-orang yang beriman (dalam perang badar) dan memasukan rasa takut ke dalah hati musuh-musuh mereka kaum Musyrikin Mekkah.

5. Al-Isyarah as-sari'ah

فَخَرَجَ عَلى‏ قَوْمِهِ مِنَ الْمِحْرابِ فَأَوْحى‏ إِلَيْهِمْ أَنْ سَبِّحُوا بُكْرَةً وَ عَشِيًّا َ

“Maka ia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu ia memberi isyarat kepada mereka. Hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi dan petang.” (Q.S. Maryam:11).

            Wahyu dalam ayat di atas berarti isyarat fisik yang diberikan oleh Zakariya kepada ummatnya untuk bertasbih di waktu pagi dan petang. Ayat ini bercerita tentang Nabi Zakariya yang berpuasa bicara tiga hari tiga malam sebagai tanda istrinya akan hamil dan kemudian melahirkan Yahya.