Selasa, 27 Oktober 2015

Pengertian Bid'ah

Pengertian Bid’ah
Ibnu Manzhur berkata: “Bada’asy syai-a, yabda’uhu bad’an wabtada’ahu; artinya menciptakan sesuatu atau mengawali penciptaan sesuatu. Badda’ar rakiyyah, artinya menggali sumur dan membuatnya Al-Badii’u dan Al-Bid’u, artinya sesuatu yang menjadi awal permulaan.

Dalam Al-Quran disebutkan:

“Katakanlah, aku bukanlah Rasul yang pertama di antara Rasul-rasul. dan aku tidak tau apa yang akan diperbuat terhadapku dan terhadapmu. Aku hanyalah mengikuti apa yang di wahyukan kepadaku, dan aku hanyalah pemberi peringatan yang menjelaskan.” (Q.S. Al-Ahqaaf:9)

Rabu, 07 Oktober 2015

Pengertian Takdir

Takdir adalah ketentuan Allah yang ditetapkan sejak zaman azali (dahulu). Dalam bahasa arab takdir disebut dalam dua kata yaitu qadha dan qodar.

Qahda adalah ketentuan atau ketentuan Allah SWT. Tentang segala sesuatu yang berkenaan dengan makhluk-Nya sesuai iradah (kehendak-Nya), meliputi baik, buruk, hidup dan mati dlsb.
Qadar berarti kepastian, peraturan, dan ukuran. Sedangkan menurut istilah, qadar adalah perwujudan ketetapan (qadha) terhadap segala sesuatu yang berkenaan dengan makhluk-Nya yang telah ada sejak zaman dahulu sesuai dengan iradah-Nya. Qadar disebut juga takdir Allah yang berlaku bagi semua makhluk hidup, baik yang telah terjadi, sedang terjadi, maupun yang akan datang.

Allah SWT berfirman dalam surat Ar-Rad ayat:11


“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tidak ada yang dapat menolaknya, dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain dia”. (QS. Ar-Rad ayat:11)

Kedua kata ini bermakna sama (sinonim) tapi ada juga yang memberi makna berbeda. Menurut Ulama, takdir ada yang bisa berubah ada yang tidak bisa berubah. Yang pertama disebut Takdir Muallaq dan Takdir Mubram.

1. Takdir Mubram
Yaitu takdir Allah yang tidak dapat diubah, tidak dapat memilih serta tidak memiliki kemampuan unutk merubahnya. Takdir Mubram ini terdapat pada sunnatullah yang ada di alam jagat raya ini. Salah satu contohnya adalah kelahiran seseorang, kematian, perjalanan matahari, bulan, planet sesuai dengan ketentuan yang telah digariskan oleh Allah.

 Allah SWT berfirman di dalam surat Al-Imran ayat:154


“Kemudian setelah kamu berdukacita. Allah menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari pada kamu, sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri, mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah. Mereka berkata: “Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?”. Katakanlah: “Sesungguhnya urusan itu seluruhnya ditangan Allah”. Mereka menyembunyika dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu; mereka berkata: “Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini”. Katakanlah: “Sekiranya kamu ada dirumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh”. “Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada di dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati.

2. Takdir Muallaq
Takdir ini dapat diubah dan manusia di beri akal dan hati nurani untuk memilihnya. Karena pada prinsipnya dalam kehidupan ini, ada sisi positif dan negatif yang akan selalu mengikuti perjalanan panjang manusia. Sisi positif dan negatif tersebut disebut dengan takdir dalam kontek Takdir Muallaq atau kata lain nasib.

Allah SWT berfirman di dalam surat Ar-Rad ayat:39


“Allah menghapus apa yang dia kehendaki dan menetapkan (apa yang dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul Kitab (Lauh Mahfuzh)”. QS. Ar-Rad ayat:39

Contoh dari Takdir Muallaq yaitu: Misalkan ada seseorang miskin kemudian ia berangan ingin menjadi orang kaya, maka ia harus berdoa serta berusaha agar yang ia inginkan untuk menjadi orang kaya dapat terujud.

Wallahualam Bisshoaff
Semoga Artikel singkat ini dapat bermanfaat. Aaminn......


Jumat, 02 Oktober 2015

Pengertian Aqidah

A. Pengertian Aqidah

Aqidah berasal dari kata ‘aqida ya’qidu’ aqdan aqidatan. Kaitan antara arti kata aqdan dan aqidah adalah keyakinan itu tersimpul dengan kokoh di dalam hati, yang memiliki sifat mengikat.

Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surat Al-Hujurat ayat:15



“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar”. (QS Al-Hujurat ayat:15)

1. Menurut Hasan Al-Banna
Aqidah (bentuk prural dari aqidah) beberapa perkara yang wajib diyakini kebenaranya oleh hati, mendatangkan ketentraman jiwa, menjadi keyakinan yang bercampur  sedikitpun  dengan keragu-raguan.

2. Menurut Abu Bakar Jabir al-Jazairy
Aqidah adalah sejumlah kebenaran yang dapat di terima secara umum oleh manusia berdasarkan akal, wahyu, dan fitrah. Kebenaran itu di patrikan oleh manusia di dalam hati serta di yakini kesahihan dan keberadaanya secara pasti dan di tolak segala sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran itu.

Dari kedua definisi di atas dapat diartikan Aqidah merupakan suatu kepercayaan, keyakinan, dari dalam hati seseorang tanpa ada sedikitpun rasa ragu-ragu terhadapnya.

B. Sumber Aqidah yang benar

Aqidah adalah tauqifiyah. Artinya: tidak bisa di tetapkan kecuali dengan dalil syar’i, tidak ada medan ijtihad dan berpendapat di dalamnya. Karena itulah sumber-sumbernya terbatas kepada apa yang ada di dalam A;-Quran dan As-Sunnah. Sebab tidak seorangpun yang lebih mengetahui tentang Allah, tentang apa-apa yang wajib bagi-Nya dan apa yang harus disucikan dari-Nya melainkan Allah sendiri. Oleh karena itu manhaj as-Salafush Shalih dan para pengikutnya dalam mengambil Aqidah terbatas pada Al-Qur’an dan As-Sunnah/Hadists.

C. Istilah-istilah lain tentang Aqidah

1. Iman: Sesuatu yang di yakini di dalam hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dengan perbuatan.
2. Tauhid: Mengesakan Allah SWT
3. Ushuludin: Pokok-pokok Agama
4. Fiqh Akbar: Berdasarkan pemahaman bahwa Tafaqquh Fiddin yang di perintahkan Allah dalam surat At-Taubah ayat:122, bukan hanya malah fiqh, tentu dan lebih utama masalah Aqidah. Dikatakan fiqh akbar, adalah untuk membedakan dengan fiqh dalam masalah hukum.

D. Ruang lingkup Aqidah

Menurut Hasan Al-Banna ruang lingkup Islam meliputi:

1. Ilahiyyat
Yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan Allah, seperti ujud Allah, sifat Allah, nama dan perbuatan Allah dlsb.

2. Nubuwat
Yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang berhubungan behubungan dengan Nabi dan Rasul. Pdmbicaraan mengenai kitab-kitab Allah yang dibawa para Rasul, Mu’jizat Rasul dlsb.

3. Ruhaniyat
Yaitu tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan alam metafisik/ghaib seperti jin, iblis, syaiton, malaikat dlsb.

4. Sam’iyyat
Yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang hanya bisa diketahui lewat sam’i yakni Dalil Naqli berupa Al-Quran dan As-Sunnah seperti alam barzkah, akhirat, azab kubur, tanda-tanda kiamat, surga dan neraka dlsb.


Kamis, 01 Oktober 2015

Keutamaan Malam Lailatul Qadar

“Bersungguh-sungguhlah kalaian dalam mencari Lailatu Qadar pada sepuluh malam yang terakhir di bulan Ramadhan”

Dibulan Ramadhan terdapat suatu amalam istimewa yang disebut Lailatul Qadar, yang artinya “malam kemuliaan”. Malam yang penuh keberkahan ini memang malam paling mulia dalam setahun. Di dalam Al-Quran disebutkan, lebih baik dari pada seribu bulan. Sebagian ulama mengatakan, disebut Lailatul Qadar  karena Allah menakdirkan pada malam itu umur manusia dan rezki-rezki mereka. Yakni, Allah menempakkan semua ketetapa-Nya untuk tahun itu, dari Lailatul Qadar itu sampai Lailatul Qadar tahun berikutnya, kepada para malaikat yang diutus untuk mengurus keadaan makhluk.

Kebesaran malam Lailatul Qadar sebenarnya berpangkal pada dua hal. Pertama, turunya Al-Quran. Kedua, turunya malaikat Jibril dan sebagian besar malaikat untuk memberikan penghormatan kepada mereka yang ikhlas berpuasa dan untuk menyaksikan ibadah mereka serta menyampaikan salam di tengah-tengah penduduk bumi. Karena itu, malam ini juga di sebut Lailatus Salam, malam kesejahteraan, Lailatut Tajalli, malam ketika Alllah melimpahkan cahaya-Nya dan hidayah-Nya kepada mereka yang beribadah di malam hari itu.

Tidak diketahu secara pasti kapan datangnya malam Laillatul Qadar. Tetapi dalam sebagian hadist, kita disuruh mencarinya pada sepuluh hari terakhir bulam Ramadhan. Karena istimewa-Nya Lailatul Qadar, sudah sepatutnya kita menghidupkkan malam-malam yang sangat diharapkan kedatanganya dengan mengerjakan amalan-amalan shalah seperti, shalat tahajud, berdzikir, beristigfar, membaca Al-Quran, itikaf, berbuat kebaikan, serta memperbanyak sedekah.

Malam yang sangat mulia  ini adalah kesempatan yang sangat berharga untuk banyak berdoa dan memohon ampunan kepada Allah SWT. Kita dapat membaca doa apa saja sekehendak kita. Tetapi tentu yang terbaik adalah membaca doa yang terdapat dalam Al-Quran dan yang warid (berasal) dari Rasulullah SAW. Diantaranya yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan Aisyah, yaitu ketika Aisyahberanya kepada Rasulullah apa yang dibaca apabila ia menjumpai Lailatul Qadar. Rasulullah mengajarkan kepada-Nya doa yang di ucapkan pada malam itu yaitu:

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampu. Engkau menyukai pengampunan. Maka ampunilah aku.”

Doa di atas adalah doa yang menyeluruh yang sangat indah sehingga harus dipelihara baik-baik, karena ia menghimpun kebaikan dunia dan akhirat. Dalam Hasyiyah al-Jalalain, Imam ash Shawi mengatakan, “Doa yang paling baik pada malam itu adalah memohon ampunan, sebagaimana doa yang telah diterima Nabi SAW.”


Semoga kita dapat mengamalkanya serta senantia meningkatkan kualitas ke imanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Baik pada bulan Ramdhan maupun di luar bulan Ramdhan, dan semoga Allah SWT mengampuni segala dosa yang telah kita perbuat. Aaminn...